Minggu, 03 Oktober 2010

Keputusan dan Pesepsi Konsumen

Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga jual rendah proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi proses pengambilan keputusan dilakukan dengan dengan pertimbangan yang matang. Pengetahuan tentang produk, harga, promosi dan distribusi merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dan mendorong seorang konsumen untuk membeli barang yang ditawarkan. Kebutuhan pengetahuan terhadap faktor-faktor bauran pemasaran juga semakin diakui oleh para pengusaha dalam menentukan keputusan beli suatu merek.

· Terdapat 5 faktor internal yang relevan terhadap proses pembuatan keputusan pembelian:

1. Motivasi (motivation) merupakan suatu dorongan yang ada dalam diri manusia untuk mencapai tujuan tertentu.

2. Persepsi (perception) merupakan hasil pemaknaan seseorang terhadap stimulus atau kejadian yang diterimanya berdasarkan informasi dan pengalamannya terhadap rangsangan tersebut.

3. Pembentukan sikap (attitude formation) merupakan penilaian yang ada dalam diri seseorang yang mencerminkan sikap suka/tidak suka seseorang akan suatu hal.

4. Integrasi (integration) merupakan kesatuan antara sikap dan tindakan. Integrasi merupakan respon atas sikap yang diambil. Perasaan suka akan mendorong seseorang untuk membeli dan perasaan tidak suka akan membulatkan tekad seseorang untuk tidak membeli produk tersebut.

5. Pembelajaran (learning) merupakan proses belajar yang dilakukan seseorang setelah membeli produk tersebut dengan melihat apakah produk tersebut memiliki kegunaan dan akan dijadikan sebagai alternatif dalam pembelian selanjutnya.

· Sebelum dan sesudah melakukan pembelian, seorang konsumen akan melakukan sejumlah proses yang mendasari pengambilan keputusan, yakni:

1. Pengenalan masalah

Konsumen akan membeli suatu produk sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapinya. Tanpa adanya pengenalan masalah yang muncul, konsumen tidak dapat menentukan produk yang akan dibeli.

2. Pencarian informasi

Setelah memahami masalah yang ada, konsumen akan termotivasi untuk mencari informasi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada melalui pencarian informasi. Proses pencarian informasi dapat berasal dari dalam memori (internal) dan berdasarkan pengalaman orang lain (eksternal).

3. Mengevaluasi alternatif

Setelah konsumen mendapat berbagai macam informasi, konsumen akan mengevaluasi alternatif yang ada untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya.

4. Keputusan pembelian

Setelah konsumen mengevaluasi beberapa alternatif strategis yang ada, konsumen akan membuat keputusan pembelian. Kadang waktu yang dibutuhkan antara membuat keputusan pembelian dengan menciptakan pembelian yang aktual tidak sama dikarenakan adanya hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan.

5. Evaluasi pasca pembelian

Merupakan proses evaluasi yang dilakukan konsumen tidak hanya berakhir pada tahap pembuatan keputusan pembelian. Setelah membeli produk tersebut, konsumen akan melakukan evaluasi apakah produk tersebut sesuai dengan harapannya. Dalam hal ini, terjadi kepuasan dan ketidakpuasan konsumen. Konsumen akan puas jika produk tersebut sesuai dengan harapannya dan selanjutnya akan meningkatkan permintaan akan merek produk tersebut di masa depan. Sebaliknya, konsumen akan merasa tidak puas jika produk tersebut tidak sesuai dengan harapannya dan hal ini akan menurunkan permintaan konsumen di masa depan.

Contoh:

Saat seseorang ingin membeli suatu barang, biasanya dia akan memilih barang mana yang aling di butuhkan terlebih dahulu. Namun kadang saat sesesorang melihat barang yang dia sukai di jual dengan harga murah atau barang-barang yang di jual denga harga murah dia akan langsung membeli barang tersebut. Hal ini di pengaruhi oleh keinginan dalam diri utnuk memiliki benda tersebut dan di dukung oleh faktor lingkungan dengan dijualnya barang tersebut dengan harga yang murah. Seperti yang telah di jelaskan di atas harga promosi dapat mempengaruhi konsumen utnuk membeli suatu barang.

Daftar Pustaka

1. Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_konsumen

2. Wapedia http://wapedia.mobi/id/Perilaku_konsumen?t=5.

3. Word Pres http://initugasku.wordpress.com/2010/03/03/penentuan-judul-analisis-faktor-perilaku-konsumen-terhadap-keputusa-beli-suatu-merek-im3-toyota/

Jumat, 01 Oktober 2010

Prilaku konsumen

Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan dengan pertimbangan yang matang.

Dua wujud konsumen

1. Personal Consumer : konsumen ini membeli atau menggunakan barang atau jasa untuk penggunaannya sendiri.

2. Organizational Consumer : konsumen ini membeli atau menggunakan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan dan menjalankan organisasi tersebut.

Terdapat tiga pendekatan utama dalam meneliti perilaku konsumen. Pendekatan pertama adalah pendekatan interpretif. Pendekatan ini menggali secara mendalam perilaku konsumsi dan hal yang mendasarinya. Studi dilakukan dengan melalui wawancara panjang dan focus group discussion untuk memahami apa makna sebuah produk dan jasa bagi konsumen dan apa yang dirasakan dan dialami konsumen ketika membeli dan menggunakannya.

Pendekatan kedua adalah pendekatan tradisional yang didasari pada teori dan metode dari ilmu psikologi kognitif, sosial, dan behaviorial serta dari ilmu sosiologi. Pendekatan ini bertujuan mengembangkan teori dan metode untuk menjelaskan perliku dan pembuatan keputusan konsumen. Studi dilakukan melalui eksperimen dan survey untuk menguji coba teori dan mencari pemahaman tentang bagaimana seorang konsumen memproses informasi, membuat keputusan, serta pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku konsumen.

Pendekatan ketiga disebut sebagai sains marketing yang didasari pada teori dan metode dari ilmu ekonomi dan statistika. Pendekatan ini dilakukan dengan mengembangkan dan menguji coba model matematika untuk memprediksi pengaruh strategi marketing terhadap pilihan dan perilaku konsumen.

Ketiga pendekatan sama-sama memiliki nilai dan tinggi dan memberikan pemahaman atas perilaku konsumen dan strategi marketing dari sudut pandang dan tingkatan analisis yang berbeda. Sebuah perusahaan dapat saja menggunakan salah satu atau seluruh pendekatan, tergantung permasalahan yang dihadapi perusahaan tersebut.

Prilaku konsumen pada remaja

Remaja adalah kelompok konsumtif yang paling besar bahkan melebihi dari orang yang sudah berpenghailan. Ini disebabkan oleh adanya perasaan optimis dalam kehidupan financial mereka dan oleh sikap permisif dari orang tua terhadap anak-anaknya untuk mengkonsumsi atau menggunakan barang-barang yang belum wajib digunakan pada usia mereka. Factor pendidikan dan pengetahuan juga mempengaruhi sikap orang tua terhadap anak.

Karena hal tersebut para produsen seringkali menjadikan remaja menjadi target promosi untuk produknya, karena remaja memiliki potensi yang cuup besar untuk mengkonsumsi barang-barang tersebut (remaja di angap sebagai potensi pasar terbesar, sehingga sering kali dijadikan target yang di incar oleh produsen).

Contoh Kasus :

Banyaknya remaja yang menggunakan BlackBerry (BB), merupakan salah satu contoh betapa konsumtifnya remaja pada jaman sekarang. BB yang tadinya hanya digunakan oleh orang-orang dewasa dan bekerja sekarang digunakan oleh remaja bahkan anak-anak pun menggunakan BB karena mengikuti tren zaman dan juga untuk terlihat keren di kalangan teman-temannya. Hal ini di pengaruhi juga dengan harga BB yang semakin murah. Dan para produsen pun menjadikan remaja yang konsumtif sebagai mangsa pasar terbesarnya.

Sumber :

1.Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_konsumen

2.Psikologi Ekonomi & Konsumen

3.Komunitas Perpustakaan Indonesia http://organisasi.org/perilaku-konsumen-ringkasan-rangkuman-resume-mata-kuliah-ekonomi-manajemen

Sabtu, 01 Mei 2010

Pembahasan Singkat Mengenai Masalah Dalam Ergonomi (Antropometri)

Dalam Ergonomi terdapat beberapa jenis masalah, salah satunya adalah Antropometri. Antropometri berasal dari kata “anthro” yang berarti manusia sedangkan “metri” yang berarti ukuran. Antropometri adalah pengukuran dimensi tubuh atau karakteristik fisik tubuh lainnya yang relevan dengan desain tentang sesuatu yang dipakai manusia (Sanders & McCormick (1987), Pheasant (1988), dan Pulat (1992)). Dimana sesuatu barang yang dapat digunakan oleh manusia menjadi tidak ergonomis lagi dikarenakan manusia itu sndiri tidak dapat untuk menggunakanya terkait dengan ukuran tubuh manusia itu sendiri.

Salah satu contohnya adalah sebuah meja yang ukurannya tidak berpatokan pada Antropometri orang yang akan menggunakannya. Seorang yang berpostur tubuh pendek memakai meja yang sangat tinggi sehingga orang tersebut tidak dapat mempergunakan meja itu secara maksimal, kegunaan meja tersebutpun menjadi tidak Ergonomis lagi bagi penggunanya dan dapat menyebabkan kejenuhan atau keputusasaan bagi penggunanya karena tidak dapat menggunakan meja tesebut sesuai dengan keperluannya. Maka ada baiknya jika kita inggin membuat suatu benda yang dapat dipergunakan semua orang secara Ergonomis ada baiknya mempertimbangkan Antropometri penggunanya.

Shift kerja yang baik di sesuaikan dengan kondisi dan lingkungan kerjanya dan efek yg ditimbulkan dari Shift kerja yg kurang baik

Sebuah perusahaan A, untuk meningkatkan hasil produksi pada perusahaan tersebut, maka perusahaan itu membuat jadwal kerja bagi para karyawannya, namun jadwal yang dibuat tidak sesuai dengan kemampuan karyawan tersebut. Karena setiap karyawan diharuskan bekerja denagn jam yang padat. Lingkunagn kerjanya pun kurang menyenagkan, dapat membuat karyawan tersebut menjadi tidak nyaman dan jenuh. Hal ini dapat menyebabkan karyawan tersebut menjadi tidak mencapai hasil yang maksimal dalam melakukan pekerjaannya. Karena karyawan tersebut merasa tidak nyaman dengan jam kerja dan lingkungan kerja yang diperusahaan tersebut.

Sedangkan diperusahaan B yang hampir sama dengan perusahaan A. untuk meningkatkan hasil produksinya, perusahaan membuat jadwal kerja yang telah disesuaikan dengan kemampuan karyawannya, ditunjang dengan asuransi kesehatan bagi tiap karyawannya. Lingkungan kerjanya pun dibuat senyaman mungkin agar karyawan tidak merasa jenuh dan bosan dengan pekerjaannya. Dan hal ini dapat memberikan dampak pada para karyawan untuk bekerja dengan optimal dan berusaha semaksimal mungkin dalam menyelasaikan pekerjaannya.

Dapat disimpulkan bahwa pemberian jam kerja yang disesuaikan dengan kemampuan karyawan, memperhatikan kesejahteraan para karyawannya dan ditunjang dengan kondisi lingkungan yang nyaman, dapat membuat para karyawan berusaha secara optimal dalam menyelesaikan tugasnya, sehingga produksi perusahaan tersebut akan menjadi maksimal.